Pesan 'Tojolo' Massenrempulu

Peninggalan sejarah yang menyimpan berbagai aspek kebudayaan suku bangsa dan memiliki aksara tersendiri ialah naskah yang diakui mengandung nilai-nilai yang perlu dilestarikan.
Pesan Tojolo Massenrempulu
Ilustrasi: Pesan Tojolo Massenrempulu
Massenrempulu yang telah mendeklarasikan diri sebagai suatu etnis, bukan bagian dari Etnis Bugis dan Etnis Toraja adalah salah satu etnis yang beruntung memiliki aksara sehingga aspek kebudayaan pada masa lampau masih dapat tersimpan dalam naskah Lontarak/Lontara'. 

Salah satu bentuk naskah Lontarak dari Massenrempulu adalah Lontarak Enrekang yang berhubungan dengan sejarah, genealogi (silsilah keluarga) dan kearifan yang dikenal dengan istilah "Pappasang" (pesan, nasihat dan wasiat).

Pappasang atau dalam bahasa bugisnya sebagai 'Pappaseng' adalah salah satu bentuk pernyataan yang mengandung nilai etis dan moral, baik sebagai sistem sosial, maupun sebagai sistem budaya dalam  kelompok masyarakat Massenrempulu. 

Di dalam sebuah pappasang terkandung suatu ide yang besar, buah pikiran yang luhur, pengalaman jiwa, nilai-nilai luhur yang syarat akan makna, dan pesan-pesan moral yang luhur tentang sifat-sifat yang baik dan buruk. 

Dengan demikian, pappasang adalah pesan 'Tojolo' (Bahasa Indonesia: Orang dahulu, Bahasa Bugis: 'Toriolo') yang berisi petunjuk, nasihat, dan amanat yang harus dilaksanakan agar dapat menjalani hidup dengan baik. Sampai saat ini masih dipegang teguh oleh masyarakat Maspul. 

Namun, kehidupan masyarakat yang dinamis, senantiasa mengalami perubahan seiring dengan perkembangan jaman. Dengan demikian, nilai-nilai tersebut senantiasa mengalami Sinkretisme maupun Akulturasi.

Sinkretisme adalah percampuran unsur-unsur kebudayaan yang lama dengan unsur budaya baru. Sedangkan Akulturasi adalah perubahan budaya karena adanya hubungan antar budaya, seperti budaya lokal dengan budaya asing.

Dari catatan Lontarak Enrekang disebut bahwa La Tanro P. Janggo Puang Kali Endekang (Aru Buttu) pernah berwasiat sebagai berikut:  

"Iko anang appoku, sikadedattakko, tassitajan kaliuluakko, sisala makale'ko sikabudaan karuekko, sisala karuekko sikabuda makale-kaleko, iko to andi paandi-i kalemu iko tokaka pakakai kalemu, pakalabii inde tomatoammu, dau kuanni anangngu tau asu atau 'puapakotuu'."

Artinya:
"Wahai anak cucuku, agar kalian saling mengasihi, jangan menyimpan dendam dan dengki. Bila kalian bertengkar di waktu pagi, rukun kembali diwaktu sore, bila kalian bertengkar diwaktu sore rukun kembali diwaktu pagi. Yang adik tempatkan dirimu sebagai adik dan yang kakak tempatkan dirimu sebagai kakak. Dan jangan pernah lupa menghormati ke dua orang tuamu. Pesanku yang terakhir, jangan mengatakan 'tau asu' (manusia anjing) atau tak ada gunamu (taen gunana te pea) kepada anak-anakmu dan keturunanmu"

Kutipan di atas merupakan Pesan 'Tojolo' Massenrempulu yang memiliki makna yang sangat dalam. Sebuah wasiat yang ditujukan kepada anak cucu keturunan Massenrempulu yang harus tetap dijaga dan di-interpretasi-kan kedalam kehidupan keluarga, sosial dan budaya.

Istilah Mallaparru to DuriPangimburuan to Enrekang dan Masiriati to Maiwa merupakan karakteristik masing-masing Sub Etnis Massenrempulu yang sering di katakan orang tua kita yang sudah melekat dalam sejarah. Dengan pesan-pesan leluhur kita mudah-mudahan kita bisa terhindar dari penyakit hati seperti dalam istilah.

Sebuah pesan leluhur yang sangat manusiawi, memberikan nasehat untuk tetap memegang teguh perdamaian, saling menjaga, saling mengasihi dan membuang rasa dengki serta iri hati. Pesan ini adalah salah satu kunci untuk mewujudkan keluarga maupun masyarakat untuk hidup rukun dan persatuan tetap terjaga tanpa perpecahan.

Tojolo Ta' (pendahulu kita) juga berpesan untuk sesegera mungkin untuk mengakhiri pertengkaran/perselisihan jika memang terjadi di antara kita. Bahkan dalam pesan Tojolo Ta' pertengkaran harus kita selesaikan dengan damai dalam waktu setengah hari (12 jam) jika dimaknai secara parsial. Namun, intinya bahwa jika terjadi hal tak tepuji ini maka segeralah untuk berdamai.

Kemudian Tojolo Ta' juga mengajarkan tentang hak dan kewajiban dalam membangun kehidupan yang harmonis. Menempatkan diri pada tempatnya, yang muda (adik) menghormati yang lebih tua (kakak) dan yang tua menghargai yang lebih muda.

Pesan terakhir Tojolo Ta' juga mengajarkan kepada kita semua untuk senantiasa menghormati dan sopan kepada kedua orang tua kita. Melarang kita untuk mengucapkan kata-kata kasar kepadanya, terutama mengatakan Tau Asu (manusia anjing) dan mengatakan tidak ada guna-gunanya.

Menurut H. Puang Palisuri (2005: 3-4) mengatakan, "Tau Asu adalah mahluk yang bagian kepala hingga perutnya berwujud manusia, sedang bangian perut hingga kakinya menyerupai anjing". Konon Puang Leoran, cicit dari Tomanurung Pallipada di Kallupuni memelihara mahluk ini.

Mungkin 'Tau Asu' pada saat itu benar adanya dan sekarang istilah 'Tau Asu' merupakan ungkapan yang digunakan masyarakat Massenrempulu pada khususnya dan Bugis pada umumnya untuk menggambarkan seorang yang memiliki sifat seperti Anjing (binatang), sampai saat ini dalam kehidupan sehari-hari masih ada orang yang menggunakan kata tersebut jikalau tak mampu menahan emosinya. Sangat miris jika hal tersebut sampai terjadi.

Mudah-mudahan kita sebagai warga massenrempulu tetap menjaga wasiat dan pesan Tojolo Ta' untuk di aplikasikan kedalam kehidupan sehari-hari kita. Semoga bermanfaat dan Pesan Tojolo Massenrempulu yang lain akan segera dipublish.
Previous
Next Post »