Wajah Bumi Massenrempulu Tempo Dulu

Bumi Massenrempulu atau lebih dikenal sebagai Kab. Enrekang adalah tempat kelahiran Saya. Kabupaten yang topografinya sebagian besar pegunungan dan memiliki luas ± 1.786.01 Km². Bumi Massenrempulu sendiri memiliki sejarah yang cukup panjang, yang mana sebelumnya merupakan kerajaan besar yang bernama Malepong Bulan hingga mengalami beberapa kali perubahan sampai pada saat ini di kenal sebagai Kabupaten Enrekang.

Wajah Bumi Massenrempulu tempo dulu tentu banyak yang penasaran. Saya sendiri sengaja surfing di internet demi mencari foto-foto tempo dulu kampung halaman saya yang tercinta. Dan akhirnya menemukan beberapa foto lama Enrekang dibawah ini dari situs wikimedia.org yang menampilkan arsip dari Tropenmuseum atau Collectie Tropenmuseum. Selain foto tempo dulu dari Bumi Massenrempulu, masih banyak juga foto-foto dari daerah lain seperti Toraja, Mandar, Gowa dan seluruh wilayah di Indonesia yang mereka arsipkan.

Tropenmuseum merupakan salah satu museum antropologis terbesar yang berlokasi di Amsterdam, Belanda, yang didirikan tahun 1864. Museum ini memiliki banyak koleksi termasuk foto-foto, lukisan, dokumen, benda dan lainnya yang memiliki nilai sejarah. 

Mungkin ada yang bertanya, Kok bisa yaa museum Belanda menyimpan foto-foto tempo dulu dari Indonesia? Jawabannya karena Tropenmuseum merupakan sebuah yayasan milik Royal Tropical Institute yang mensponsori penelitian tentang budaya tropis di seluruh dunia termasuk Indonesia. Jadi wajar jika mereka menyimpan foto lama dari berbagai daerah di seluruh Indonesia.

Berikut Wajah Bumi Massenrempulu Tempo Dulu yang berhasil saya dapatkan

Foto pertama adalah foto Jembatan Gantung yang berada di pusat Kota Enrekang. Dimana jembatan ini melintang di atas Daerah Aliran Sungai (DAS) Mata-Allo Kab. Enrekang. Berada di sebelah timur Rumah Jabatan Bupati, Ketua DPRD dan Wakil Bupati Enrekang, sedangkan di sebelah barat berdekatan dengan Kantor KPU dan Lapangan Abu Bakar Lambogo.
Collectie Tropenmuseum: Jembatan Gantung di Kab. Enrekang (Tahun 1920-1940)
Collectie Tropenmuseum: Jembatan Gantung di Kab. Enrekang (Tahun 1920-1940)
Jembatan ini dibuat pada zaman penjajahan belanda, sekarang sudah tidak difungsikan lagi karena umur yang sudah sangat tua. Selain itu, dengan perkembangan zaman yang terus berkembang hingga daerah ini ramai dan banyak bangunan-bangunan modern yang di bangun di sekitar areanya serta kendaraan yang juga meningkat membuat jembatan bersejarah ini hanya diperuntuhkan untuk pejalan kaki saja.  

Di sebelah barat sekitar 600 meter dari jembatan gantung ini telah dibuat jembatan baru sekitar tahun 1990-an yang menjadi jalur utama lintas Sulawesi dari Enrekang ke Toraja. 

Selanjutnya foto berikutnya adalah foto landscape pertemuan Sungai Saddang dan Sungai Mata-Allo Kab. Enrekang. Gambar dibawah ini adalah gambar yang sengaja Saya ambil dari Google Maps untuk bisa di sandingkan dengan foto tempo dulu dibawahnya.
Google Map: Pertemuan Sungai Saddang dan Sungai Mata-Allo Kab. Enrekang (Tahun 2016)
Google Maps: Pertemuan Sungai Saddang dan Sungai Mata-Allo Kab. Enrekang (Tahun 2016)
Tampak ada sedikit perbedaan dari gambar yang diambil dari Google Maps (2016) dengan foto tempo dulu di pertemuan Sungai Saddang dan Sungai Mata-Allo. Seiring berjalannya waktu, perubahan pun terjadi akibat perjalanan air dari hulu ke hilir sering kali melakukan pengikisan dan erosi.
Collectie Tropenmuseum: Pertemuan Sungai Sadang dan Sungai Mata-Allo di Kab. Enrekang (Tahun 1930-1936)
Collectie Tropenmuseum: Pertemuan Sungai Sadang dan Sungai Mata-Allo di Kab. Enrekang (Tahun 1930-1936)
Collectie Tropenmuseum: Pertemuan Sungai Sadang dan Sungai Mata-Allo di Kab. Enrekang (Tahun 1930-1936)
Collectie Tropenmuseum: Pertemuan Sungai Sadang dan Sungai Mata-Allo di Kab. Enrekang (Tahun 1930-1936)
Collectie Tropenmuseum: Pertemuan Sungai Sadang dan Sungai Mata-Allo di Kab. Enrekang (Tahun 1930-1936)
Collectie Tropenmuseum: Pertemuan Sungai Sadang dan Sungai Mata-Allo di Kab. Enrekang (Tahun 1930-1936)
Bumi Massenrempulu memang dibelah oleh dua sungai besar diatas yang melintas disepanjang deretan pegunungan. Sungai ini bukan saja dimanfaatkan oleh masyarakat Enrekang, namun Aliran Sungai Saddang ini juga digunakan sebagai sumber air untuk irigasi bagi masyarakat yang ada di Kab. Sidrap dan Kab. Pinrang untuk persawahan.

Lebih lanjut pada foto berikutnya memperlihatkan sebuah rumah tradisional yang tergenang oleh air banjir yang menurut deskripsi dari sumber foto diambil adalah luapan dari Sungai Mata-Allo. Hal tersebut juga pernah terjadi di tahun 2008 lalu. Kala itu Bumi Massenrempulu di guyur hujan lebat selama dua hari penuh yang mengakibatkan banjir bandang di sejumlah daerah akibat meluapnya Sungai Saddang dan Sungai Mata-Allo.
Collectie Tropenmuseum: Rumah Tradisional Sekitar Sungai Mata-Allo Kab. Enrekang (Tahun 1931)
Collectie TropenmuseumRumah Tradisional Sekitar Sungai Mata-Allo Kab. Enrekang (Tahun 1931)
"Tijdens een overstroming in de Mata Allo bij Enrekang zoekt een aantal geiten toevlucht in het laatste huisje van het oude kampement" (Bahasa Belanda) Katanya: Selama banjir dari Sungai Mata Allo di Enrekang, melihat sejumlah kambing berlindung di rumah terakhir dari perkampungan tua. Hehehehe orang dulu ternyata suka memelihara kambing juga.

Terlepas dari bencana banjir dan kambing, yang terlihat dalam foto tampak sebuah rumah yang sangat sederhana dan menunjukkan kepada kita bahwa beginilah tempat tinggal pendahulu kita yang bermukim di sekitar aliran Sungai Mata-Allo pada tahun 1930-an.

Selanjutnya adalah foto Pompa Bensin BPM Shell Kalosi Kab. Enrekang tahun 1920-1940. Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM) adalah perusahaan minyak, anak dari perusahaan Royal Dutch Shell. BPM didirikan tanggal 26 Februari 1907 sebagai perusahaan induk di Den Haag, Belanda.
Collectie Tropenmuseum: Mobil di sebuah pompa bensin BPM Shell Kalosi (Tahun 1920-1940)
Collectie TropenmuseumMobil di sebuah pompa bensin BPM Shell Kalosi (Tahun 1920-1940)
Deskripsi dari sumber foto mengatakan bahwa "Celebes sebutan lain Sulawesi memiliki jaringan jalan cukup dipelihara dan jalan yang dominan bagus, digunakan oleh pejalan kaki dan kendaraan bermotor. Selain itu, hewan seperti kuda juga merupakan kendaraan yang biasa digunakan untuk mengangkut orang dan juga barang."

Gambar diatas menampilkan kombinasi dari mobil klasik dan sebuah pompa bensin. pompa adalah dari BPM, anak perusahaan dari kelompok Royal Dutch Shell yang dioperasikan banyak sumur minyak di India. Sedangkan Mobil adalah mobil yang diimpor terkait erat dengan munculnya pariwisata modern di Nusantara, karena dengan kedatangan kendaraan ini maka harus meningkatkan kualitas jalan. Hal ini mempermudah bagi Eropa dan wisatawan lain untuk menuju ke Toraja. (P. Orchard, 2001). 

Terakhir adalah foto Pasar Tradisional Kalosi Kab. Enrekang Tahun 1920-1940. Merupakan foto yang memperlihatkan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat Maspul tempo dulu. Pasar kalosi merupakan salah satu pusat jalannya ekonomi masyarakat.
Collectie Tropenmuseum: Pasar tradisional di Kalosi Kab. Enrekang (Tahun 1920-1940)
Collectie TropenmuseumPasar tradisional di Kalosi Kab. Enrekang (Tahun 1920-1940)
Tampak jelas kehidupan masyarakat Maspul sangat rukun dan saling berinteraksi, tawar-menawar maupun sekedar tegur sapa. Hampir semua menggunakan "Caping" yang sering disebut "topi petani" berbentuk kerucut dan memiliki ukuran yang lebar terbuat dari anyaman bambu, lengkap dengan bakul (baku': Bahasa Maiwa) sebagai tempat untuk membawa dagangan. 

Tampak juga seorang perempuan yang menutup kepalanya menggunakan kain yang sedang duduk menghadap belakang, entah itu kerudung (jilbab) atau bukan namun masyarakat maspul pada saat itu sudah mengenal Agama Islam, berdasarkan dari berbagai literatur menyebutkan bahwa Islam masuk ke Kerajaan Maiwa (salah satu kerajaan yang tergabung dalam federasi Pitu Massenrempulu) pada kepemimpinan Pua’ta Lundu (1602-1625) merupakan pertama kali masuknya Agama Islam. 

***
Foto-foto ini sempat melintas di Timeline Facebook milikku karena seorang yang juga berasal dari Bumi Massenrempulu mengunggahnya ke Group Massenrempulu. Tentu saja menarik banyak komentar dan pertanyaan. Namun kebanyakan membenarkan foto-foto tersebut adalah foto tempo dulu Massenrempulu. Walaupun banyak yang berubah tapi masih bisa dikenali.

"A Picture Worth 1000 Word" Yaa, Sebuah gambar bisa memberikan 1000 kata. Begitulah ungkapan yang sering kita dengar. Dan menghapus satu gambar adalah menghapus satu kenangan.

Saya pribadi sangat bersyukur masih bisa melihat foto-foto seperti ini, dengan sekejap membawa Saya ke masa lampau cukup dengan melihatnya saja. Bernostalgia ke masa yang sangat jauh, jauh sebelum Saya lahir. Membuat kita sadar betapa perubahan dan perkembangan zaman membuat kesenjangan cara hidup dan peradaban yang cukup jauh, Kita dan Mereka. 

Mudah-mudahan di zaman digital ini, Kita lebih bisa memelihara, mangabadikan dan meninggalkan jejak untuk dinikmati oleh anak cucuk kita 100-200 tahun kedepan.
Previous
Next Post »