Mengenal Buntu Kabobong (Gunung Nona) Enrekang

Buntu Kabobong merupakan objek wisata alam yang paling terkenal di Bumi Massenrempulu, bahkan objek wisata ini sudah mendunia dan sudah dikenal banyak orang. Memang Buntu Kabobong bukan tujuan wisata dan hanya persinggahan wisata asing yang hendak ke Tanah Toraja namun destinasi wisata Buntu Kabobong seakan memaksa para turis untuk singgah menikmati keindahan Buntu Kabobong, mengabadikannya untuk dikoleksi dan di bawa pulang ke negara masing-masing.
Buntu Kabobong/Gunung Nona
Buntu Kabobong/Gunung Nona
Gunung Buttu kabobong yang berjarak sekitar 16 km dari Kota Enrekang arah utara menuju Tana Toraja atau berada sekitar 240 km di arah utara Kota Makassar tepatnya di Dusun Kotu, Desa Bambapuang, Kec. Anggeraja, Kabupaten Enrekang Sulawesi selatan juga merupakan destinasi wisata yang tidak hanya indah untuk dipandang namun juga dikenal karena keunikannya.

Yah, menarik dan terkenal karena bentuknya yang sangat mirip dengan organ vital wanita. Dari namanya saja, Buntu atau Buttu berarti gunung sedangkan Kabobong berarti organ vital wanita. Sehingga gunung yang secara alami ini terbentuk sering juga disebut Gunung Nona (Erotic Mountain) bahkan ada juga yang bilang “Aurat yang tak haram dipandang” jadi UU Pornografi tidak berlaku disini, Hehehehe.


Gunung Nona merupakan ikon yang sejak dulu melekat pada Bumi Massenrempulu. Gunung Nona juga diabadikan namanya di salah satu jalan Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Gunung yang berada di atas ketinggian 500 meter dari permukaan laut ini memiliki cuaca yang sangat sejuk. Di tambah pula aliran sungai yang mengalir di kaki bukit Buntu Kabobong menambah cantik panoramanya.

Untuk bisa sampai kesana cukup mudah karena Buntu Kabobong bisa dinikmati dari jalan poros Enrekang – Toraja. Walaupun jalanannya bisa membuat kepala Sobat menari dan perut terasa mual, namun keindahan pegunungan disepanjang perjalanan Sobat bisa jadi obat paling ampuh. Warung, kafe dan villa yang berjejeran di sepanjang jalan bisa Sobat tempati untuk menyaksikan indahnya Gunung Nona ini.
Keindahan Buntu Kabobong
Keindahan Buntu Kabobong
Dibalik keindahan dan keunikan Buntu Kabobong tersirat cerita dan sejarah yang melegenda. Konon dahulu kala ada seorang Putri Raja Soppeng yang murka terhadap pernikahannya karena Sang Putri dijodohkan oleh ayahnya dengan seorang lelaki yang tidak ia kenal sama sekali.

Lelaki itu adalah seorang putra pewaris tahta dari Kerajaan Suppa. Sang Putri yang tidak setuju dengan perjodohan itu akhirnya melarikan diri kearah utara dan sampai di Anggeraja, disana ia bertemu dengan lelaki yang bernama Tandu Mataranna Enrekang Laki Barakkanna Puang.

Singkat cerita, Sang Putri berhasil ditemukan oleh prajurit utusan Sang Ayah. Sang Putri ditebas oleh salah seorang prajurit yang ingkar janji, dimana perjanjiannya Sang Putri harus dibawa pulang dalam keadaan hidup. Tubuh Sang Putri terbelah dua. Konon belahan tubuh Sang Putri inilah yang menjadi Buntu Kabobong. Dan belahan lainnya yaitu dari pusat hingga kepala hanyut di Sungai Mata Allo.

Dilain versi diceritakan bahwa konon dahulu kala di kaki Gunung Bambapuang terdapat sebuah kerajaan yang bernama Tindalaun yang dipimpin oleh seorang raja keturunan dari ‘To Manurung’ yang bernama Kalando Palana. Kerajaan Tindalaun yang setiap tahunnya memiliki peningkatan perekonomian yang cukup pesat sehingga kehidupan mereka menjadi makmur dan sejahtera.

Namun kehidupan yang dirasakan oleh masyarakat Kerajaan Tindalaun itu juga membuat mereka jadi lupa diri. Kehidupan hura-hura, boros dan selalu bersenang-senang bahkan sampai perzinaan mewarnai kehidupan sehari-hari masyarakat dan keluarga Sang Raja. Sang Raja mulai khawatir karena kehidupan sosial masyarakatnya yang tidak terkendali bisa membuat Tuhan Sang Pencipta jadi murka.

Sampai pada akhirnya kekhawatiran Sang Raja terjadi, Tuhan murka dan menurunkan bencana yang sangat besar dan menghancurkan Kerajaan Tindalaun. Setelah terjadinya bencana itu maka muncullah Buntu Kabobong yang merupakan jelmaan dari manusia yang dilaknat Tuhan Sang Pencipta.

Kedua cerita diatas hanya sebagian dari banyak versi yang berbeda di kalangan masyarakat maspul. Namun pada prinsipnya dari legenda dan cerita Buntu Kabobong (Gunung Nona) memiliki makna dan pesan moral tersendiri. Jadi silahkan sobat sendiri yang menelaah pesan moral yang mana ingin sobat petik.

Dan intinya adalah tanah maspul tanah yang indah. Terima Kasih..!! 
Previous
Next Post »