Polemik Kenaikan Harga Rokok, Setujukah Anda?

Rokok? Yah rokok. Siapa yang tidak mengenal benda yang satu ini? Hampir semua orang tahu tentang rokok, bahkan anak kecil pun tahu apa itu rokok. Namun sebagian besar dari kita hanya tahu kalau rokok itu hanyalah benda biasa yang terkadang bahkan sering digunakan karena banyak alasan seperti hanya ingin coba-coba, iseng, sebagai penghilang stres maupun kejenuhan bahkan sampai ada yang menganggap rokok adalah bagian dari gaya hidup mereka. 

Rokok bahaya bagi kesehatan
Instrumen: Orang Merokok
Tapi tahu kah kita bahwa sebenarnya rokok adalah benda yang sangat berbahaya yang mengandung bahan kimia, setidaknya terdapat lebih dari 4000 zat kimia dan beberapa diantaranya dapat memicu penyakit kanker serta penyakit berbahaya lainnya.

Rokok juga termasuk zat adiktif karena dapat menyebabkan ketagihan (adiksi) dan ketergantungan (edependnsi) bagi orang yang menghisapnya. Dengan kata lain, rokok termasuk golongan NAPZA (Narkotika, Psikotropika, Alkohol, dan Zat Adiktif).

Efek rokok terhadap kesehatan sudah jelas sangat membahayakan. Walaupun begitu masih banyak saja orang yang tetap merokok. WHO (World Health Organization) atau Organisasi Kesehatan Dunia sendiri mengklaim bahwa rokok sebagai salah satu mesin pembunuh terbesar manusia.

***
Akhir-akhir ini beredar wacana terkait kenaikan harga rokok hingga Rp. 50 ribu per bungkus, kabar ini mulai berhembus dari event 3rd Indonesian Health Economics Association (InaHEA) Congress di Yogyakarta (28/7/2016) kemudian merambat dengan cepat melalui media nasional maupun lokal, bahkan banyak rekan-rekan blogger yang ikut meramaikan isu ini. 

Kabar yang sebenarnya belum ada keputusan dan baru dalam bentuk wacana ini menui banyak reaksi dari masyarakat, ada yang pro maupun yang kontra, ada yang senang ada juga yang khawatir dengan wacana tersebut.

Wajar saja, jika harga rokok naik maka sudah bisa di pastikan banyak dari kalangan menengah kebawah akan berhenti merokok. Ini sejalan dengan tujuan WHO untuk mengurangi potensi penyakit lewat bahan gulungan kecil ini dan menyehatkan umat manusia.

Terlepas dari tujuan mulia ini, jika benar wacana ini akan di jadikan kebijakan oleh pemerintah maka ada banyak hal yang harus dipertimbangkan dalam mengambil kebijakan terkait kenaikan yang tidak tanggung-tanggung ini. Baik itu dari sisi ekonomi sampai pada sisi sosialnya harus dipertimbangkan dengan matang, gejolak dan kegaduhan berpotensi akan terjadi. Pemerintah harus hati-hati dengan keadaan yang sudah terlanjur menyatu dengan masyarakat Indonesia ini.

Dari sisi ekonomi, tidak bisa dipungkiri bahwa industri rokok sudah berkontribusi besar dalam hal pertumbuhan ekonomi bangsa. Terlihat dari data statistik bahwa rokok menyumbangkan sebesar 52,7 persen di sektor perpajakan atau sebesar 1,37 persen (Setara 12,18 Miliar Dollar AS) kontribusinya dalam Output Nasional.

Instrumen sederhana terkait gonjang ganjing kenaikan harga rokok sebagai berikut:

Harga rokok naik 
Banyak perokok berhenti karena tidak mampu membeli rokok. Ini bukanlah hal yang buruk karena perokok bisa berkurang di negeri ini. Penyakit akibat rokok juga bisa diminimalisir. Dengan fakta bahwa harga rokok di bawah Rp 20 ribu dinilai menjadi penyebab tingginya jumlah perokok di Indonesia. Hal tersebut membuat orang yang kurang mampu hingga anak-anak sekolah dengan mudah bisa menjangkau harga tersebut, jadi ini memang penuh dengan pro dan kontra.

Permintaan tembakau menurun
Dengan berkurangnya komsumsi tembakau (rokok) di kalangan masyarakat maka bisa dipastikan jumlah permintaan tembakau akan menurun.

Banyak industri di sektor tembakau terancam bangkrut
Komsumsi dan permintaan tembakau yang menurun merupakan ancaman besar terhadap perindustrian tembakau yang berujung pada PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) atau kata kasarnya pemecatan besar-besaran. Tidak bisa kita pungkiri bahwa industri tembakau merupakan industri padat karya yang menyerap jumlah tenaga kerja lebih 6,1 juta orang, serta menciptakan beberapa mata rantai industri yang dikelola rakyat. Angka kemiskinan pun akan melejit naik.

Petani tembakau ikut sensara
Petani tembakau juga tidak luput dari dampak kenaikan harga rokok, petani juga terancam karena permintaan hasil tani mereka pasti ikut menurun oleh perusahaan-perusahaan rokok. Dampak yang berantai dan mengancam banyak pihak dan berpotensi peningkatan jumlah pengangguran. 

PSK dan Kriminalitas jadi alternatif paling potensial 
Banyaknya pengangguran akibat PHK besar-besaran dari perusahaan rokok bisa berpotensi pada peralihan profesi, baik itu dari kalangan pria maupun para wanita. Ribuan tenaga kerja yang menggantungkan hidupnya kepada pabrik rokok akan kehilangan mata pencaharian. Tidak sedikit akan berfikiran instan dan mencari pekerjaan yang cepat, dikhawatirkan akan bertindak nekat termasuk menjadi pelaku kriminal (Begal, Perampok, Mencuri, dll) maupun menjadi PSK. Perokok berat juga yang sudah kecanduan pasti sulit menghentikan kebiasaannya merokok, mau tidak mau juga akan melakukan hal yang sama.

Dengan kondisi seperti ini maka bukan hanya dari sisi ekonomi yang terganggu tapi sisi sosial pun juga ikut terganggu. Kemiskinan dan kriminalitas menjadi ancaman besar bagi bangsa ini. Pemerintah dituntut mampu mengendalikannya lewat kebijakan politik yang arif dan bijaksana.
Previous
Next Post »