Percayalah, Ini bukan kisah film "Silariang,"

"Aku harus mengalah, ini sudah jadi skenario Tuhan. Harus berbesar hati," kata salah seorang teman baikku. Saya harus belajar banyak untuk kutipan kalimat yang satu ini.
Kadang idealisme harus mengalah pada realitas. Cinta yang tak begitu kokoh bisa ambruk oleh adat dan keinginan orang tua si gadis bugis
Foto Ilustrasi
Kalimat yang sekaligus membawa suasana warkop di Alauddin Makassar itu terasa hening.

Saya terhentak dan berusaha menjadi pendengar yang baik saat pembahasan masa depan beralih ke gadis bugis penjaga hatinya.

"Pacarku mau nikah bulan depan kawan," Katanya dengan nada rendah.

"Apa? serius?" Saya sedikit kaget. Karena dari perjalanan romantikanya, saya salah satu orang yang menjadi saksinya.

Tapi, rasa kaget itu berangsur-ansur pudar saat kita kembalikan semua ini ke sang khaliq, Maha pengatur segalanya. Tidak ada yang tidak mungkin bagi-Nya.

Sedikit memecah suasana. Saya tertawa sambil menepuk pundaknya. Alasannya, kejadian ini sudah terjadi sebelumnya pada tiga sang pujangga, teman kami.

Khalil Gibran-Khalil Gibran yang juga ditinggal nikah dalam rentang waktu yang tidak terlalu jauh.

Sedikit haru, matanya enggan menatapku, dia menceritakan gadis seperti dia sudah langkah. Pengertian, tahu dan mau mengerti kondisinya. Kondisi keluarga dan ekonomi sahabatku ini.

Makanya, dia bertahan sejak gadis bugis itu masih Mahasiswa baru hingga memperoleh gelar sarjananya. Empat tahun mereka bersama.

"Saya masih sempat mengantarnya beli kain di pasar sentral. Kain yang akan dibuatnya jadi hijab (jilbab) untuk dijual. itu pertemuan kami yang terakhir," tuturnya sembari menunduk menceritakan pertemuan terakhir mereka. Hingga tiga minggu berselang, kabar itu akhirnya datang.

"Sampai di sinimi hubungan ta' bagus Kak. Jangan maki lanjut," kata sang pujaan hati sahabatku ini tanpa sepenggal alasan.

Jawabannya akhirnya datang setelah berselang beberapa hari kemudian. "Adami datang lamarka dan adatnya keluargaku tidak baik selalu menolak. Aku harus ikut kata orang tuaku," pungkas sang gadis yang berusaha meyakinkan sahabatku.

Lalu, diajawab dan berusaha untuk tegar "Kalau memang itu yang terbaik. Kitaji. Undang mika saja. Nanti saya datang ke pestata".

Jawaban yang menurut saya sangat bijak dan hanya orang-orang kuat yang bisa memberikan jawaban seperti itu. Ini sekaligus mengigatkan kita pada kisah Risna yang hadir di pernikahan kekasihnya di Bulukumba.

Kemudian, percakapan lewat telpon dia tutup dengan memberikan doa terbaik buat sang gadis "mudah-mudahan bahagia ki bersamanya," nampak sahabatku sudah ihklas dan rela gadisnya di pinang laki-laki lain.

Sebelumnya, memang sudah ada yang datang melamar. Tapi ditolak karena sahabat saya masih diberi kesempatan kumpulkan uang Panaik. Tapi, sesi kedua ini, sahabat saya masih dalam kondisi ekonomi yang sama.

"Saya ini orang susah Her," tegasnya kepada saya, "Kuliahpun karena saya yang ngotot. Ingin merubah nasib keluarga. Makanya, hukumnya wajib bagiku menikah dengan uang sendiri. Tak mungkin kondisi ini harus dipaksakan. Saya ini laki-laki."

Memang, sahabat saya yang satu ini komitmen dengan prinsip hidup yang dia yakini.

Pengunjung warkop kian ramai. Dua gelas kopi di atas meja sudah dingin. Tapi, masih tersisah setengahnya. Segera kuseruput, bakar sebatang rokok. Dan kembali jadi pendengar yang baik.

"Ini sudah skenario Tuhan. Harus kujalani, mungkin ini yang terbaik baginya, juga bagiku. Dan memang tak selamanya mendung akan terjadi hujan, begitu pula dengan pacaran yang tak selamanya sampai di pelaminan." tutupnya.
***
Ceritra ini mungkin sedikit berbeda dengan film "Silariang" persembahan Wisnu Adi. Jika film ini mengisahkan Yusuf dan Zulaikha yang sepakat memilih jalan pintas, Silariang.

Dia lebih memilih menunggu masa itu datang. Melihat senyum bahagia dari orang tuanya dari atas pelaminan.

Tapi, percayalah. Pemandangan menggetarkan menjelang senja di pantai Losari yang menjadi saksi kesungguhan cinta dari Yusuf kepada Zulaikha. Juga jadi sepenggal kisah nyata dalam perjalanan kisah mereka.

Kadang idealisme harus mengalah pada realitas. Cinta yang tak begitu kokoh bisa ambruk oleh adat dan keinginan orang tua si gadis bugis.

Dan setiap pujangga memang harus siap untuk menghadapi pahitnya percintaan. Jika berani berenang maka harus siap tenggelam.

By: Herman
Previous
Next Post »