Kacanduan Teknologi Mengubah Segalanya

Rasanya sudah lama saya tidak menulis di blog ini, rindu untuk membuat postingan baru yang tiba-tiba muncul dalam benakku. 

Kumulai membuka media sosial seperti biasanya, tentu saja facebook lah yang menjadi pilihan utamaku. Aku mulai berselancar dengan membuka tab notifikasi dan membaca status-status yang melintas di timelineku.

Puas berfacebook kulanjutkan membuka aplikasi media sosial lain yang juga terinstal di smartphoneku. Hampir semua aplikasi media sosial populer ada didalamnya, kecuali twitter yang mungkin karena saya kurang tertarik dengan media sosial yang satu ini.

Tidak hanya aplikasi media sosial yang ada didalam, aplikasi game online juga ikut meramaikan tampilan layar utama smartphoneku.

Jadi, tidak heran jika aku menggunakan benda segiempat cerdas ini bisa menghabiskan waktuku hingga berjam-jam lamanya. Rasanya benda ini seperti zat adiktif yang membuat saya kecanduan menggunakannya.
Fenomena Kecanduan Teknologi
Gambar Ilustrasi: Fenomena Kecanduan Teknologi
Yah, mungkin karena banyak hal yang bisa aku lakukan, kreasikan dan ekspresikan sesukaku dengan smartphoneku ini.

Saya bisa mengabadikan setiap momen penting dalam hidupku maupun yang tidak penting sama sekali, menjadi penghibur disaat aku galau, mendengarkan musik atau menonton video.

Bisa menjadi navigasi jika aku tersesat selama jaringan internet masih ada, memudahkan banyak pekerjaanku dengan berbagai macam aplikasi.

Dengan smartphone saya tidak pernah ketinggalan berita yang lagi trend, kejadian-kejadian di manapun bisa saya akses, apalagi kalau untuk mendapatkan ilmu dan pengetahuan itu semua bisa aku dapatkan lewat bantuan om, yah om google tentunya.

Yang paling penting adalah memudahkan saya berkomunikasi dengan keluarga dan teman-teman yang jauh disana, termasuk dengan pacar hehehe.

Berbagi kabar, cerita dan candaan lewat media sosial, bertatap muka langsung dengan video call jika rindu, yaa lumayanlah bisa melihat wajah orang yang dirindukan lewat smartphone sebagai obat penawarnya.

Sesekali juga aku curhat dengan menulis status yang katanya galau di akun media sosialku tanpa peduli siapa yang mau membacanya ataupun meresponnya. Semuanya kulakukan karena merasa bebas meluapkan semua ekspresi kehidupanku di dunia maya.

Terlepas dari itu semua, ternyata ada yang telah direnggut oleh smartphoneku ini atau lebih tepatnya oleh kecanggihan teknologi sekarang. Sesuatu yang sangat berharga dalam hidupku terasa hilang.

Kecanduan terhadap teknologi membuat segala sesuatunya berubah. Dari kebiasaan-kebiasaanku, kehidupan sosialku, pola pikirku, waktuku dan sampai pada kesehatanku telah dirubah olehnya.

Mungkin fenomena manusia menunduk bisa dilihat disekeliling kita, dimanapun dan kapanpun. Di tempat nongkrong, tempat makan, ruang rapat bahkan di jalanan kini kita bisa lihat fenomena ini.
Generasi Menunduk
Generasi Menunduk. (Source: suarababel.com)
Tidak heran jika melihat orang-orang berkumpul di tempat nongkrong terasa sangat sepi, semuanya menunduk memainkan smartphone masing-masing. Tidak saling menyapa dan lebih sering senyum-senyum sendiri terlihat seperti orang autis.

Dan itu terjadi padaku ketika disebuah momen pertemuanku dengan sahabat yang sudah lama tidak bertemu aku isi dengan fenomena saling menunduk. Menyedihkan bukan?

Saat bersama orang terdekat sekalipun juga seperti itu, lebih banyak berinteraksi dengan si cerdas (smartphone) daripada mereka. Aku tidak mampu memberikan quality time bersamanya.

Mungkin kata orang "mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat" itu benar.

Fenomena lain yang bisa dilihat sekarang adalah ketika kita lebih berani mengambil resiko untuk mengambil sebuah foto selfie yang tidak lain karena ingin di bagikan ke akun media sosial.

Ini menunjukkan bahwa lebih penting tombol like ketimbang keselamatan diri. Sungguh semuanya telah berubah.

Lain lagi ketika kita mendapati orang yang terkena musibah, lebih cepat tangan ini mengambil handphone (HP) didalam saku untuk jepret-jepret (mengambil gambar) ketimbang langsung menolongnya.

Nilai kemanusiaan kita memang sudah terpenjara oleh teknologi. Padahal bercerita, berbagi pengalaman, bernostalgia dan saling membantu dengan sesama itu lebih berarti, lebih memenuhi nilai kemanusiaan.

Selain mengurangi kualitas kemanusiaanku, ternyata aku juga sudah menjadi budak teknologi.

Memaksa untuk terus mengikuti perkembangannya yang sewaktu-waktu bisa mempengaruhi perilakuku.

Banyak trend baru yang muncul seiring perkembangan teknologi ini dan saya yakin sobat sudah tahu semuanya.

Seperti misalnya berburu "TELOLET" menggunakan handphone. Hampir semua manusia di jagad raya ini ikut dengan trend ini. Entah besok kebodohan apalagi yang akan aku lakukan dengan si cerdas.

Miris memang, aku seakan tidak bisa lepas dengannya. Mulai dari bangun tidur yang harusnya cuci muka dulu dan merapikan tempat tidur malah langsung sibuk dengannya.

Saat makan, saat-saat apa saja selagi ada kesempatan sampai tidur lagi jarang sekali pisah dengan dirinya.

Dekat dengan colokan listrik terasa lebih indah ketimbang duduk manis di pinggir pantai menanti matahari tenggelam. Ini mungkin ungkapan yang tepat bagiku sekarang.

Tidak hanya itu, ketika ada produk baru rasanya langsung ingin memiliki walaupun untuk kasus ini aku tidak bisa turuti karna persoalan kemampun. Namun hasrat yang muncul sangatlah tinggi akibat perbudakan ini.

Saking terlenanya, terkadang lupa membedakan yang mana perioritas dengan yang bukan, yang mana kebutuhan yang mana keinginan.

Smartphone yang katanya pintar ternyata membuat saya jadi bodoh. Tanpa sadar memori otakku dimanja oleh kecanggihannya sehingga melakukan perhitungan tidak pernah lagi ku lakukan dengan kemampuanku sendiri.

Daya ingat ku terasa tumpul karena selalu berharap pada smartphone yang serba bisa, membiasakan diriku tidak perlu mengingat karena semuanya bisa saya dapatkan didalamnya.

Lain lagi kalau berbicara dampak terhadap kesehatan, masalah radiasi dan kurangnya aktifitas serta waktu tidur yang singkat. Silahkan simpulkan sendiri. Dan inilah pengalamanku.
***
Smartphone (kecanggihan teknologi) telah mengubah segalanya. Menjadi candu bagi penggunanya.

Inilah resiko hidup di zaman ini, zaman dimana perkembangan teknologi sangat cepat.

Entah bagaimana nasib gernerasi kita kedepannya, generasi digital native. Generasi yang lahir dan hidup di era perkembangan teknologi dan internet.

Yang sejak kecil sudah bisa mengutak-atik teknologi, menggunakan internet layaknya orang dewasa. Bisa main game online dan menonton youtube.

Inilah tanggung jawab kita sebagai generasi digital immigrant. Generasi yang sudah mengenal dunia teknologi lebih dulu dari mereka.

Tentu sudah banyak pelajaran yang harus diturunkan kepada mereka. Mengajarkan batasan-batasan dan cara-cara yang bijak dalam penggunaannya.

Tidak seperti dengan hidupku yang sudah banyak di rebut oleh si cerdas.

Memang perlu kita akui bahwa inilah kita yang sekarang, manusia menunduk yang kurang peduli terhadap sekitar.

Dan perlu disadari bahwa semua ini harus dilawan, melawan kecanduan teknologi untuk mengembalikan nilai kemanuasiaan kita yang telah hilang.

Menggunakan teknologi dengan bijak dan memposisikannya sesuai dengan porsinya. Jangan terlena dengan segala macam kelebihannya namun harus di pertimbangkan dengan dampak yang di hasilkannya.

Bukankah menyapa dan menepuk pundak sahabat jauh lebih baik dari pada "PING!!!"

*Jika sobat punya cerita lain bisa berkomentar di bawah dan menyempurnakan pesan dari tulisan ini.
***
Berikut video ilustrasi dari Channel Akrabarka:

Previous
Next Post »